Selasa, 15 Januari 2013

TEORI EKLEKTIF SISTEMATIK




A.       Teori Eklektif Sistematis
Kata eklektik berarti menyeleksi, memilih doktrin yang sesuai atau metode dari berbagai sumber atau sistem. Teori konseling eklektik menunjuk pada suatu sistematika dalam konseling yang berpegang pada pandangan teoritis dan pendekatan, yang merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang diambil atau dipilih dari beberapa konsepsi serta pendekatan. 
Di dalam melakukan konseling, terdapat berbagai macam teori konseling yang dapat digunakan oleh konselor sebagai pedoman pelaksanaan konseling. Salah satu teori konseling tersebut adalah teori konseling eklektik. Konseling eklektik (eclectic counseling) mulai dikembangkan sejak tahun 1940-an oleh Frederick Thorne yang merupakan promotor utama dari corak konseling ini. Selanjutnya, teori ini dikembangkan oleh Robinson.
Secara konseptual setiap individu mempunyai tiga macam bentuk dasar pengalaman, yaitu :
1.      Dimensi Afektif (Perasaan)
2.      Dimensi Kognitif (Fikiran dan kepercayaan)
3.      Dimensi Behavioral (Tindakan/ Tingkah laku)
Konselor yang berpegang pada pola eklektik berpendapat bahwa mengikuti satu orientasi teoritis serta menerapkan satu pendekatan terlalu membatasi ruang gerak konselor sebaliknya konselor ingin menggunakan variasi dalam sudut pandangan, prosedur dan teknik sehingga dapat melayani masing-masing konseli sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan ciri khas masalah-masalah yang dihadapi. Ini tidak berarti bahwa konselor berpikir dan bertindak seperti orang yang bersikap opportunis, dalam arti diterapkan saja pandangan, prosedur dan teknik yang kebetulan membawa hasil yang paling baik tanpa berpegang pada prinsip-prinsip tertentu.
B.       Teori Eklektif Dalam Perspektif Islam

KONSELING BARAT
KONSELING ISLAM
DEFINISI

Aktivitas dalam mengubah sikap dan perilaku individu (klien) oleh seseorang yang profesional (konselor).


Amanah dari Allah untuk membina dan membentuk manusia ideal yang menuju jalan terbaik (Islam).

TUJUAN

Mengatasi masalah yang dihadapi.

Ketenangan, kebahagiaan, keridhaan.

PENDEKATAN

1.      Pendekatan Psikodinamika berlandaskan pada pemahaman, motivasi tak sadar, rekonstruki kepribadian. Kategori terapi psikoanalitik.

2.      Pendekatan Humanistik berorientasi pengalaman dan relasi, meliputi terapi eksistensial, client centered, gestalt.

3.      Pendekatan Rasional-Kognitif dan Tindakan berorientasi pada perilaku, meliputi analisis transaksional, terapi tingkah laku, rasional emotif, dan realitas.

Konsep pendekatan dan teknik konseling yang utamanya berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, serta pemikiran para tokoh Islam yang berkaitan dengan


Hakekat bimbingan dan konseling Islami adalah upaya membantu individu belajar mengembangkan fitrah (potensi manusia) dan atau kembali kepada fitrah, dengan cara memberdayakan (empowering) iman, akal, dan kemauan yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya untuk mempelajari tuntunan Allah dan Rasul-Nya, agar fitrah yang ada pada individu dapat berkembang dengan benar dan kokoh sesuai tununan Allah SWT.

Sebelum dijelaskan mengenai teori eklektif dalam islam, ada baiknya kita mengetahui Hakikat Manusia dalam Islam. Yaitu :

1.      Manusia diciptakan dengan tujuan yang mulia yakni beribadah kepadaNya (QS Adz-Dzaariyaat: 56).
2.      Sifat dasar manusia adalah baik.
3.       Manusia makhluk ciptaan Allah yang mulia dan terbaik (QS Al-Israa’: 70).
4.       Manusia penuh dengan kesadaran dan tanggung jawab serta bisa membedakan yang baik dan buruk.
5.       Manusia memiliki titik lemah dalam dirinya yakni hawa nafsu.
6.       Memiliki motivasi kuat dan potensi besar mampu mengendalikan perilaku.
7.       Jiwa manusia terbagi dalam 3 keadaan yakni :
a)      Jiwa yang cenderung kepada keburukan karena dikuasai oleh hawa nafsu akan duniawi
(QS Yusuf: 53).
b)      Jiwa yang  menyesali diri yakni menyesali kesalahan yang diperbuat tetapi masih mudah tergoda dunia (QS Al-Qiyaamah: 1-2).
c)      Jiwa yang tenang yang mencapai kematangan, syukur & sabar , serasi dunia-akhirat (QS Al-Fajr : 27-30).
8.       Setiap waktu ada pertentangan antara kebaikan dan keburukan dalam diri manusia.

Konseling Elektik (Electic Counseling), pendekatan ini berada ditengah-tengah atau bisa dikatakan campuran antara konseling direktif dan nondirektif. Pendekatan ini memberikan keleluasaan kepada klien untuk melakukan identifikasi, pemahaman, analisis, sintesis, dan kesimpulan terhadap masalah yang dihadapinya. Serta mencari alternatif pemecahan masalah, tetapi konselor juga memberi arahan-arahan, penyimpulan, serta bantuan pemecahan apabila dihadapi oleh Klien.
Pendekatan islami dapat dikaitkan  dalam aspek-aspek psikologis dalam pelaksanaan konseling yang meliputi pribadi, sikap, kecerdasan, perasaan, dan seterusnya yang berkaitan dengan klien dan konselor.
Bagi pribadi muslim yang berpijak pada landasan tauhid pastilah seorang pekerja keras, namun nilai bekerja baginya adalah untuk melaksanakan tugas suci yang telah diberikan oleh Allah berikan dan percayakan kepadanya, ini baginya adalah ibadah.

Dalam pelaksanaan bimbingan konseling, pribadi muslim tersebut memiliki ketangguhan pribadi tentunya dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1.         Selalu memiliki prinsi landasan dan prinsip dasar, yaitu beriman keada Allah SWT
2.         Memiliki prinsip kepercayaan, yaitu beriman kepada malaikat
3.         Memiliki prinsip kepemimpinan, yaitu beriman kepada Nabi dan RasulNya
4.         Selalu memiliki prinsip pembelajaran, yaitu berprinsip kepada Al-Qur’an dan     Al-Karim
5.         Memiliki prinsip masa depan, yaitu beriman kepada “Hari Kemudian”
6.         Memiliki prinsip Keteraturan, yaitu beriman Kepada “Ketentuan Allah”
Jika Konselor memiliki prinsip tersebut (Rukun Iman) maka melaksanakan bimbingan dan konseling tentu akan mengarahkan kepada kebenaran. Selanjutnya dalam pelaksanaan, pembimbing dan konselor perlu memiliki 3 langkah untuk menuju kesuksesan pada bimbingan dan konseling.
1.      Memiliki mission statement yang jelas. Yaitu “ Dua kalimat Syahadat”
2.      Memiliki sebuah metode pembangunan Karakter sekaligus simbol kehidupan.
3.      Memiliki kemampuan pengendalian diri yang dilatih dan disimbolkan dengan “Puasa”
Prinsip dan langkah tersebut penting bagi pembimbing dan konselor muslim, karena akan menghasilkan kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ) yang sangat tinggi (Akhlak Karimah).
Dengan mengamalkan hal tersebut, akan memberi keyakinan dan kepercayaan bagi klien yang melakukan bimbingan dan konseling. Pernyataan ini diperkuat oleh ayat Al-Qur’an surat Ali Imran [3]; 104
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. merekalah orang-orang yang beruntung”.
Pada ayat tersebut memiliki kejelasan bahwa pelaksanaan bimbingan dan konseling akan mengarahkan seseorang pada kesuksesan dan kebijakan.  Para konselor perlu mengetahui pandangnan Filsafat Ketuhanan (Theologie), manusia disebut “Homo divians”  yaitu makhluk yang berketuhanan, berarti manusia dalam sepanjang kesejarahannya senantiasa memiliki kepercayaan terhadap tuhan atau hal-hal ghaib yang mempunyai daya tarik kepadanya (mysterium trimendum  atau  mysterium fascinans).
Hal demikian oleh agama-agama besar didunia dipertegas bahwa manusia adalah makhluk yang disebut makhluk beragama (homo religius), oleh karena itu memiliki naluri Agama (Insting Religious), sesuai dengan firman Allah SWT pada Surah Ar-rum [30] : 30 :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan. Pada diri klien juga da benih-benih agama, sehingga untuk mengatasi masalah-masalah dapat dikaitkan dengan agama, dengan demikian konselor daat mengaahkan klien ke arah agamanya, dalam hal ini agama islam.
Selanjutnya ditemukan bahwa Agama, terutama agama islam mempunyai fungsi-fungsi pelayanan bimbingan, konseling dan terapi dimana filosofinya didasarkan atas ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Proses Pelaksanaan  Bimbingan, konseling, dan Psikoterapi dalam Islam, tentunya membawa pada peningkatan iman ibadah, dan jalan hidup yang di Ridhai Allah SWT.


Secara umum, metode yang dapat digunakan dalam bimbingan dan konseling islami ada 4, yaitu :
1.      Metode Keteladanan
Yakni meneladani Rasulullah SAW. (QS Al-Ahzab: 21; Al-Maidah: 31)
2.       Metode Penyadaran
Menggunakan ungkapan nasihat, janji & ancaman. (Al-Hajj: 1-2)
3.      Metode Penalaran Logis
Dialog dengan akal dan perasaan individu. (Al-Hujuraat : 12)
4.      Metode Kisah
Kisah nabi, rasul dan orang-orang shalih yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits.
Menurut sifat bantuan yang diberikan, dapat membedakan antara teknik pemberian informasi, teknik yang mendorong aktifitas tertentu dan teknik yang memberikan penyembuhan atau terapi.
1.      Teknik pemberian informasi dapat memberikan informasi secara lisan maupun tulisan.
2.  Bimbingan yang mendorong kegiatan pada umumnya dilakukan secara kelompok, dan berfungsi bukan saja memberi informasi, tetapi juga mendorong peserta didik, untuk saling menyesuaikan dirimenyalurkan dorongan-dorongan mereka dan sebagainya. Teknik-teknik ini meliputi kunjungan kelompok, orientasi, kegiatan klub, organisasi, siswa, diskusi kelompok, pertemuan konselor dengan guru/ orangtua, dan lain-lain.
3. Teknik bimbingan yang memberikan penyembuhan dapat memberikan secara individual seperti konseling dan psikoterapi individual dan dapat pula diberikan secara kelompok seperti konseling kelompok, sosio drama, dan psikodrama.

Konseling merupakan suatu aktivitas yang hidup dan mengharapkan akan lahirnya segala perubahan dan perbaikan yang sangat didambakan oleh konselor dan klien. Untuk mencapai tujuan yang mulia itu, sangat diperlukan adanya teknik yang memadai.
           
 Rasulullah Bersabda :
            Barang siapa diantara kalian mengetahui kemungkran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak kuasa, ubahlah dengan lisannya, jika tidak kuasa ubahlah dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.  (HR. Muslim dari Abu Said Al-Khudri)

Adapun dalam melaksanakan konseling agama, dapat menerapkan metode-metode berikut ini :
1.      Metode yang bersifat lahir batin

Metode yang bersifat lahir ini menggunakan alat yang dapat dilihat, di dengar dan dirasakan oleh klien. Seperti menggunakan lisan dan tangan. Dalam penggunaan tangan tersirat bebrapa makna, antara lain :

a.       Dengan mengunakan, power,dan otoritas
b.      Keinginan, kesungguhan, dan usaha yang keras
c.       Sentuhan tangan
Penggunaan teknik konseling dan terapi yang lain secara lahir adalah dengan menggunakan lisan, dapat dilakukan dengan hal-hal berikut :
a.       Membaca dan Berdoa
b.      Sesuatu yang dekat dengan lisan, yakni hembusan atau tiupan


2.      Teknik yang bersifat batin

Teknik yang bersifat bathin yaitu teknik yang dapat dilakukan dalam hati dengan doa dan harapan, namun tak ada usaha dan upaya keras secara konkret, seperti dengan menggunakan potensi tangan atau lisan.

Teknik konseling yang ideal adalah dengan kekuatan, keinginan, dan usaha yang keras, serta bersungguh-sungguh, dan diwujudkan secra nyata melalui perbuatan, baik menggunakan fungsi tangan dan lisan maupun sika yang lain.
Tujuan utamanya adalah membimbing dan mengantarkan individu kepada perbaikan dan perkembangan eksistensi diri dari kehidupannya, baik hubungannya dengan Tuhannya, diri sendiri, llingkungannya, dan keluarga.

Konseling yang menggunakan teknik secara batin cenderung akan memberikan dampak yang sangat kuat bagi klien, atau terbimbing untuk keluar dari permasalahan yang muncul dari dalam dirinya, dikarenakan kekuatan doa secara batin akan memberikan kekuatan dalam diri dan jiwa klien.
Tahap-tahap dalam bimbingan dan konseling Islami adalah sebagai berikut:

1.      Meyakinkan individu akan keberadaan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah, keimanan yang benar sangat penting bagi keselamatan hidupnya di dunia dan di akhirat, ada hikmah di balik musibah, ibadah dan syariat yang ditetapkan Allah.
2.      Mendorong dan membantu individu memahami dan mengamalkan ajaran agama secara benar.
3.      Mendorong dan membantu individu mamahami dan mengamalkan iman, islam, dan ihsan.

Peran utama konselor dalam konseling dengan pendekatan ini adalah sebagai “pengingat”, yaitu sebagai orang yang mengingatkan individu yang dibimbing dengan cara Allah. Dikatakan mengingatkan sebab:

a)      Pada dasarnya individu telah memiliki iman, jika iman yang ada pada individu tidak tumbuh maka tidak berfungsi dengan baik
b)      Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa kitab suci sebagai pedoman hidup, jika ada individu yang mengalami kebingungan diduga mereka belum memahami petunjuk itu. Oleh sebab itu, bagi mukmin yang memiliki keahlian (konselor) berkewajiban untuk mengingatnya.



BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

1.      Kesimpulan

Dari uraian makalah diatas dapat disimpulkan bahwa konseling Elektik sistematik merupakan salah satu metode dalam konseling untuk membantu memecahkan permasalahan klien berdasarkan lingkungannya, yang dikembangkan atas dasar pola fikir perspektif sistem dari setiap orang. Dalam pola fikir tersebut, orang selalu dipandang aktif berinteraksi dengan lingkungannya.

Dalam Agama, terutama agama islam mempunyai fungsi-fungsi pelayanan bimbingan, konseling dan terapi dimana filosofinya didasarkan atas ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Proses Pelaksanaan  Bimbingan, konseling, dan Psikoterapi dalam Islam, tentunya membawa pada peningkatan iman ibadah, dan jalan hidup yang di Ridhai Allah SWT, dan menuntun manusia untuk meraih nilai nilai dari rukun iman yang akan mengarahkan diri kepada kebenaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar